SELAMAT DATANG DI BLOG ISLAM-nya Mbah Atmo, kunjungi juga blog Mbah Atmo yang lain

Kamis, 02 Februari 2012

PEMIKIRAN ABU HANIFAH

Abu Hanifah adalah pendiri mahzab Hanfi yang dikenal dengan Al Iman Al A’zham yang berarti Imam terBesar. Abu Hanifah dikenal sebagai ahli ra’yu dalam menetapkan
hokum Islam, baik yang bersumber dari al-Qur’an maupun Hadits. Beliau banyak menggunakan nalar. Beliau mengutamakan ra’yu daripada khabar ahad. Jika terjadi pertentangan beliau menetapkan hokum dengan jalan qiyas dan ihtihsan. Hal ini wajar, sebab kehidupan sosio kultur yang memppengaruhinya. Abu Hanifah tinggal di Kufah (Iraq) yang letaknya jauh dari Madinah sebagau Kota Hadits. Di Kufah kurang dalam perbendaharaan hadits, disamping itu kota Kufah adalah kota yang berada di tengah kebudayaan Persia yang kondisi peradabannya sudah cukup maju, banyak muncul persoalan yang tidak terjadi pada zaman Nabi tau zaman sahabat dan tabi’in. maka untk menyelesaikan hukumnya digunakan ra’yu. Latar belakang inilah yang menyebabkan Abu Hanifah disebut ahlu ra’yu.
Abu Hanifah menggunakan istidlal dalam istimbath hukum. Hal ini dapat dilihat dari perkataannya ”pertama-tama saya mencari dasar hukum dalam al-Qr’an jika tidak ada, saya cari dalam Sunnah, kalau tidak ada juga, saya pelajari fatwa-fatwa sahabat dan saya pilih yang saya anggap kuat…kalau orang melakukan ijtihad sayapun melakukan ijtihad”
Perkataan Abu Hanifah di atas mengikis semua tuduhan Ahlu Zahir yang mencela mahzab Abu Hanifah itu adalah filsafat Parsi yang dijadikan fiqh. Ahlu Zahir berpendapat bahwa kita tidak boleh bersandar kecuali pada nash (al-Qur’an & Hadits). Karena jika melihat makna dan illat akan mengakibatkan perselisihan dan kerancuan yang berarti melebihi syari’at dengan hawa nafsu dan pendapat.
Abu Hanifah adalah seorang imam yang sangat moderat. Hal ini tergambar dalam ucapannya “Inilah pendapat saya dan jika ada orang lain membawa pendapat lebih kuat, maka pendapatnya itulah yang lebih benar”. Pernah ada orang bertanya kepadanya “apakah yang engkau fatwakan itu benar dan tidak diragukan lagi?”, ia menjawab “Demi Allah bisa jadi fatwaku itu salah yang tidak diragukan lagi kesalahannya”.
Imam Abu Hanifah dalam beristidlal atau menetapkan hokum syara’ yang tidak ditetapkan dalalahnya secara qath’I di dalam al-Qur’an atau dari hadits yang diragukan ke-shahih-annya, ia selalu menggunakan ra’yu. Ia sangat selektif dalam menggunakan hadits. Beliau menggunakan qiyasdan jika tidak bisa dengan qiyas beliau berpegang kepada istihsan yang didasari oleh kemaslahatan umum yang dianggap darurat. Imam mahzab yang empat semuanya menggunakan apa yang digunakan oleh Abu Hanifah berupa qiyas dan istihsan, cuma istilahnya saja yang berbeda. Abu Hanifah lebih banyak menggunakan keduanya (qiyas & istihsan) dibanding mujtahid yang lainnya. Abu Hanifah juga menggunakan urf, jika persoalan itu tidak bisa diselesaikan dengan istihsan. Abu Hanifah adalah orang petama yang sibuk dengan fiqh prediksi yaitu memaparkan permasalahan yang belum terjadi dan menjelaskan hokum-hukumnya, dengan harapan jika peristiwa itu terjadi, maka hukumnya telah ada.

2 komentar:

  1. Assalamu'alaikum mbah...
    infonya sangat menarik dan bisa menambah wawasan saya pribadi tentang Islam....
    terima kasih mbah atas infonya...

    BalasHapus
  2. menarik sekali, sangat membuka wawasan. makasih dah sharing...

    BalasHapus